Membumikan Al-Ma’un di Bangku Sekolah: Refleksi Pelajar Berkemajuan Oleh: Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Membumikan Al-Ma’un di Bangku Sekolah: Refleksi Pelajar Berkemajuan Oleh: Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Bagi seorang kader Muhammadiyah, surat Al-Ma’un bukanlah sekadar hafalan juz amma yang dilantunkan saat salat. Ia adalah Manifestasi Perlawanan. Dahulu, Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan surat ini berulang-ulang kepada muridnya bukan agar mereka hafal secara lisan, melainkan agar mereka gelisah secara batin melihat kemiskinan dan ketidakadilan di depan mata.
Dalam perspektif Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Teologi Al-Ma’un harus mengalami kontekstualisasi. Jika dulu musuh utamanya adalah kemiskinan ekonomi dan kolonialisme, maka hari ini, Al-Ma’un bagi pelajar adalah senjata melawan kemiskinan intelektual dan eksploitasi kemanusiaan.
Teologi Al-Ma'un mengajarkan kita satu hal fundamental. Ibadah ritual yang tidak melahirkan transformasi sosial adalah pendustaan agama. Sebagai pelajar, kita sering terjebak pada kesalehan formalistik, rajin salat dan pintar di kelas namun abai ketika melihat kawan sebangku putus sekolah karena biaya, atau diam saat melihat perundungan (bullying) terjadi di pojok kantin. Al-Ma’un bagi IPM adalah panggilan untuk "turun dari menara gading" akademik dan mulai menyentuh realitas sosial di lingkungan sekolah.
Untuk membumikan teologi ini, setidaknya ada tiga dimensi yang harus digerakkan oleh kader IPM:
Dimensi Literasi (Melawan Kebodohan)
Menghardik anak yatim di era modern bisa berarti membiarkan mereka buta aksara atau tertinggal secara teknologi. Program literasi IPM bukan sekadar lapak baca, tapi upaya membebaskan pikiran pelajar dari narasi-narasi palsu (hoaks) dan kejumudan berpikir.
Dimensi Advokasi (Pendampingan Pelajar)
IPM harus menjadi "pembela" bagi pelajar yang terpinggirkan. Baik itu pendampingan terhadap korban kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, maupun advokasi kebijakan sekolah yang tidak berpihak pada siswa kurang mampu.
Dimensi Digital (Kemanusiaan di Ruang Siber)
Di era algoritma, memberi makan orang miskin juga berarti memberi asupan konten yang mencerahkan dan tidak memecah belah. Kita harus memastikan ruang digital tidak menjadi tempat penghakiman, melainkan ruang pemberdayaan.
Teologi Al-Ma’un adalah ruh yang menjaga IPM agar tidak menjadi organisasi seremonial yang hanya sibuk dengan pelantikan dan rapat kerja. Al-Ma’un menuntut kita untuk menjadi subjek penggerak.
Mari kita ingat pesan ideologis kita, "Agama diturunkan bukan untuk menyepi di masjid, tapi untuk memanusiakan manusia. Selama masih ada pelajar yang menangis karena ketidakadilan, maka selama itu pula surat Al-Ma’un harus terus kita "bacakan" melalui aksi nyata".
Nuun Wal Qolami Wamaa Yasthuruun.
Komentar